Laman

Selasa, 11 Mei 2010

TIDAK MENANGIS WAKTU AKU KALAH

"Aku berdoa supaya aku tidak menangis waktu aku kalah...."
Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah
siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap
mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri,sebab memang begitulah peraturannya.
Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding
semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk
berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit
lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark
bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya
sendiri.
Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan.
Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah
siap 4 mobil, dengan 4 pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah di antaranya.
Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti
sedang berdoa.
Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!".
Dor!!! Tanda telah dimulai.
Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil tu pun meluncur dengan cepat.
Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.
"Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka.
Ahha...sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai.
Dan...
Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati.
"Terima kasih."
Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya.
"Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?"
Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Mark.
Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain, aku,
hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."
Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi
ruangan.
Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua.
Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian.
Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta
Tuhan mengabulkan semua harapannya.
Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya.
Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan
kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk
berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk
menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa
pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata.
Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah
untuk percaya bahwa kita kuat.
Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau
kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah
menyerah.
Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian.
Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu ujian tersebut.
Amin....

Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya.
Amsal 15:23
Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang. Amsal 16:24
Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin. Amsal 17:27


kembali ke depan
selengkapya...

Pohon Apel dan Anak Lelaki

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu
setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu
sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat
mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini
telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel
itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke
sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan
anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki
itu."Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang
untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh
mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan
uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat
senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi
dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah
datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang
melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon
apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus
bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat
tinggal. Maukah kau menolongku?" Duh, maaf aku pun tak memiliki
rumah.
Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon
apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa
bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak
pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel
merasa sangat bersuka cita menyambutnya."Ayo bermain-main lagi
denganku," kata pohon apel."Aku sedih," kata anak lelaki itu."Aku
sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan
berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar
dan bersenang-senanglah."
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan
membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak
pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun
kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak
memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak
memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata
pohon apel."Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak
lelaki itu."Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku
berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua
dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah
setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah
kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan
beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan
beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di
pelukan akar-akar pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air
matanya.
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu
kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya
datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak
peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk
memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat
kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan
orang tua kita.
Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan.
Dan,yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya;
dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan
diberikannya pada kita.



kembali ke depan
selengkapya...

Kamis, 08 April 2010

Anda spesial

Suatu hari seorang penceramah terkenal membuka seminarnya dengan cara yang unik. Sambil memegang uang pecahan Rp. 100.000,00.- ia bertanya kepadahadirin,

"Siapa yang mau uang ini?" Tampak banyak tangan diacungkan. Pertanda banyak minat.

"Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini."

Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat2. Lalu bertanya lagi,"Siapa yang masih mau uang ini?" Jumlah tangan yang teracung tak berkurang.

"Baiklah," jawabnya, "Apa jadinya bila saya melakukan ini?" ujarnya sambil menjatuhkan uang itu ke lantai dan menginjak2nya dengan sepatunya. Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi.

"Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?" Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak.

"Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting.

Apapun yang terjadi dengan uang ini, anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Biarpun lecek dan kotor, uang itu tetap bernilai Rp. 100.000,00.-

Dalam kehidupan ini kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita. Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti.

Padahal apapun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda, terlebih di mata Tuhan.
Jangan pernah lupa - Anda spesial...!!!

“Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” (2 Korintus 3:18b)

kembali ke depan
selengkapya...

Selasa, 06 April 2010

sudah teratur pada tempatnya

Ada seorang petani yang punya kebun sangat luas. Segala macam tanaman, khususnya buah-buahan ada di dalamnya. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, dengan hati yang gembira pak tani itu pergi ke kebunnya untuk memetik sebagaian dari buah-buahan untuk dijual.begitu gembiranya ia memetik buah-buahan, sehingga tidak terasa hari sudah hampir sore dan ia baru inga kalau ia belum makan.
Sambil bersiul ia berjalan hendak berteduh di bawah pohon besar yang daunnya rindang untuk membuka bekal makan siangnya. Wah, ternyata ia lupa membawa bekal dari rumah. Ia sangat kecewa, namun tiba-tiba rasa laparnya hilang ketika sekali lagi ia memandang ke seluruh kebunya dan melihat begitu melimpahnya buah-buahan yang siap untuk dipetik dan dijual.
Ia kemudian duduk melepaskan lelah di bawah pohon besar itu. Tidak jauh dari tempat ia duduk, ada buah labu yang sangat besar. Petani itu kemudian berbaring di tanah sambil menengadah ke atas mengamati pohon besar tempatnya berlindung. Ia bergumam, ”Ah....ternyata Tuhan tidak adil, masakan pohon yang besar seperti ini diberikan buah yang kecil seperti kelereng. Sementara labu yang batangnya kecil bisa menghasilkan buah yang sangat besar, mungkin beratnya berlipat kali bila dibandingkan dengan pohonnya. Aku heran apa yang ada dalam pikiran Tuhan ketika menciptakan ini semua?”
Sementara merenungi apa yang ia saksikan, tiba-tiba ada satu buah kecil yang jatuh dari pohon tempatnya bernaung. Buah itu jatuh tepat menimpa hidungnyasehingga ia merasa kesakitan. Spontan petani tersebut beryeriak, ”Aduh...buah sekeci ini kok jatuhnya tepat di hidungku ya?..eh untung juga buahnya kecil. Andai kata besarnya seperti labu ini, jangankan hidung, kepalaku pun akan ikut pecah. Wah, beruntung sekali buah pohon ini kecil. Tuhan ...ternyata segala sesuatu engkau sudah atur pada tempatnya. Betapa ajaib karyaMu. Betapa aku bersyukur untuk semua yang tersedia dan Engkau ciptakan. Tidak ada yang bisa melampaui apa yang Engkau sudah rancangkan bagi manusia....”

kembali ke depan
selengkapya...

Jumat, 02 April 2010

Saya kan Masih Muda...

Ayat bacaan: Bilangan 27:18
======================
"Lalu TUHAN berfirman kepada Musa: "Ambillah Yosua bin Nun, seorang yang penuh roh, letakkanlah tanganmu atasnya"

"Ah nanti saja, saya kan masih muda..biarkan yang tua-tua saja duluan, saya ikut 'gerbong terakhir' ntar.." canda seorang siswa di kampus ketika di ajak teman-temannya untuk berdoa. Candaan ini bukan baru pertama kali saya dengar. Saya merasa geli sendiri, apa 'gerbong kereta' menuju Tuhan itu mungkin bakal kepenuhan? Mengapa harus yang tua-tua duluan sementara yang muda belakangan? Secara logika pada umumnya memang yang muda akan memiliki waktu yang lebih panjang di banding orang yang sudah tua. Namun siapa yang bisa memastikan bahwa 'gerbong terakhir' itu akan tetap tersedia? Bagaimana jika kita keburu dipanggil menghadap Tuhan sebelum 'gerbong terakhir' itu sampai kepada kita?

Alkitab memberi banyak contoh orang-orang yang dipakai sejak muda. Ada Yoas, yang menjadi raja sejak usia 7 tahun (2 Raja-Raja 11:21) dan memerintah selama 40 tahun. Yoas sejak muda sudah menunjukkan kemampuannya memimpin, dan dikatakan ia selalu melakukan apa yang benar. "Yoas melakukan apa yang benar di mata TUHAN seumur hidupnya, selama imam Yoyada mengajar dia." (12:2). Kita bisa melihat bahwa usia bukanlah kendala untuk hidup benar. Usia tidak bisa dijadikan alasan untuk menunda hidup yang penuh ketaatan. Yoas tidak saja hidup berkenan di hadapan Tuhan, ia bahkan bisa menjadi seorang pemimpin hingga kurun waktu yang panjang. Dalam kisah lain kita tahu bagaimana Daud mampu mengalahkan Goliat, raksasa Filistin dari Gat, di usia yang masih sangat muda. Tidak saja muda, bahkan dikatakan Daud pada waktu itu masih sangat muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. (1 Samuel 17:42). Tapi kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Dalam kisah Daud pun kita melihat hal yang sama, bahwa siapapun manusia, meski masih sangat muda sekalipun bisa dipakai Tuhan. Artinya tanpa pandang usia, kita semua haruslah mau belajar sejak dini untuk hidup kudus, taat pada firman Tuhan dan berjalan mengikuti kehendakNya.

Dalam kisah Yosua kita melihat bagaimana proses peralihan tampuk kepemimpinan perjalanan bangsa Israel dari Musa kepada dirinya. Tuhan tahu bahwa tugas yang akan diemban Yosua tidaklah mudah. Yosua pun tahu bahwa tanggungjawab yang diletakkan di atas pundaknya begitu berat. Tapi lihatlah bagaimana Tuhan menyiapkan Yosua. Sejak awal Yosua rajin mengikuti Musa kemanapun Musa pergi. Ketika Musa mengalami perjumpaan dengan Tuhan, Yosua pun ikut menyaksikan, bahkan ia terus bertahan di sana karena terpana menyaksikan kemuliaan Tuhan. "Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu." (Keluaran 33:11). Sejak muda Yosua sudah dilatih. Dan ketika saatnya tiba, Tuhan masih menyuruh Musa untuk meneguhkan Yosua. "Dan berilah perintah kepada Yosua, kuatkan dan teguhkanlah hatinya, sebab dialah yang akan menyeberang di depan bangsa ini dan dialah yang akan memimpin mereka sampai mereka memiliki negeri yang akan kaulihat itu." (Ulangan 3:28).

Sebuah pertanyaan lain mungkin muncul. Mengapa harus Yosua yang dipilih? Yosua dipilih karena ia adalah seorang pemuda yang takut akan Tuhan. Meski masih muda, ia sudah menunjukkan loyalitas tinggi baik kepada Musa maupun Tuhan. Ayat bacaan hari ini menggambarkan bagaimana Allah berkenan kepada Yosua. "Lalu TUHAN berfirman kepada Musa: "Ambillah Yosua bin Nun, seorang yang penuh roh, letakkanlah tanganmu atasnya" (Bilangan 27:18). Yosua adalah seorang yang penuh roh di usia mudanya. Yosua tidak menunggu hingga tua dulu baru taat, tapi ia sudah menjadikan ketaatan sebagai karakter dan gaya hidupnya sejak muda. Di bagian lain hal ini kembali ditegaskan. "Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangannya ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa." (Ulangan 34:9).

Kepada teman-teman yang masih berusia muda, jangan jadikan usia sebagai halangan atau alasan untuk melakukan kehendak Tuhan, termasuk melayani, melakukan pekerjaanNya. Tuhan meminta anda-anda yang masih muda untuk mampu tampil sebagai teladan, baik dalam perkataan, tingkah laku, dalam kasih, dalam kesetiaan dan dalam kesucian. (1 Timotius 4:12). Mungkin di usia muda anda merasa belum mampu, itu wajar. Tapi bukankah apa yang diminta Tuhan hanyalah kerelaan kita dan bukan kemampuan atau kehebatan kita? Bukankah Tuhan adalah Allah yang menyediakan? Kepada orang-orang yang dipakaiNya pun Dia pasti selalu menyediakan segala sesuatu terlebih dahulu termasuk menganugerahkan Roh Kudus agar kita dimampukan menjadi saksi-saksiNya. (Kisah Para Rasul 1:8). Jangan tunggu 'gerbong terakhir', tapi segeralah naik ketika 'gerbong' kesempatan itu hadir di hadapan anda sebelum terlambat. Jangan tunda karena tidak ada yang tahu berapa lama kita punya kesempatan di dunia ini. Tuhan mampu memakai siapapun, termasuk yang masih muda, dan Dia akan melengkapi dengan cukup agar anda mampu. Tuhan siap menyediakan perkara-perkara besar kepada orang-orang muda yang setia. Take the chance before it's too late. Are you ready?

Usia muda bukanlah halangan untuk setia melakukan kehendakNya


kembali ke depan
selengkapya...

Yang Merendah Yang Ditinggikan

"Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya (1 Petrus 5:6)"

Baiklah kita ingat bahwa ayat di atas adalah bagian sebuah surat Rasul Petrus kepada gereja purba yang sedang menderita karena iman mereka kepada Kristus (bukan karena jahat, melanggar hukum atau tidak pintar bergaul). Alih-alih membenarkan dan memperkuat ego mereka, Rasul Petrus malah meminta umat Kristen yang sedang susah itu agar merendahkan diri mereka. Ya, orang-orang yang menderita karena benar dan berbuat baik itu disuruh merendahkan dirinya. Hebat sekali.

Ajakan Rasul Petrus ini mengingatkan kita orang-orang Kristen masa kini agar tidak menjadi orang-orang sombong dan congkak, apalagi ketika kita merasa diri kita benar dan baik, dan dekat dengan Tuhan. Kebenaran, bahkan penderitaan karena iman dan kebenaran, bukanlah alasan untuk meninggikan diri, menganggap diri lebih suci atau mulia dibanding orang lain. Sebagai orang-orang benar sekali pun kita tetap harus rendah hati. Sebagai orang-orang pilihan Tuhan sekali pun kita tetap harus bertobat dan senantiasa berjuang melawan kehendak jahat yang ada dalam diri sendiri.

Namun bukan hanya itu. Rasul Petrus juga mengingatkan dalam kesukaran dan penderitaan kita harus merendahkan diri kita di hadapan Tuhan, sebab hanya dalam kerendahan hati itulah kita sungguh-sungguh mengakui dan karena itu mengalami kekuatan dan kemuliaan kasihNya. Sebab Allah bukan hanya menyembunyikan wajahNya tetapi juga sangat membenci orang-orang congkak atau tinggi hati. Persis seperti kata Yesus: barangsiapa meninggikan dirinya akan direndahkan Allah, tetapi siapa yang yang merendahkan dirinya justru akan ditinggikan Allah.

Doa:
Ya Tuhan, kami merendahkan diri kami di hadapanMu mengaku: sekali pun kami merasa beriman dan benar, kami tetap tidak bebas dari kekeliruan dan kesalahan. Ya, kami mengaku tidak sempurna. Sebab itu ajarlah kami senantiasa rendah hati dan mengakui kami memerlukan pertolonganMu. Sadarkanlah hati kami, ya Tuhan, janganlah biarkan umatMu jatuh atau sesat karena kesombongannya. Dalam Yesus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

selengkapya...

Menguji Iman Sendiri

"Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika kamu tidak demikian, kamu tidak tahan uji. (2 Kor 13:5)"

Apa boleh buat, kita memang hidup di tengah masyarakat telat berkembang, yang bukan saja kurang serius kepada hal-hal pemeriksaan, penyelidikan dan pengujian, tetapi juga seringkali tidak jujur. Lihatlah! Begitu banyak pemilik kenderaan pribadi apalagi umum yang merasa tidak punya waktu, tidak penting, atau tidak perduli untuk memeriksa kondisi kenderaannya sebelum berangkat. Lebih parah, pemilik armada angkutan udara dan laut juga sama sifatnya, sehingga wajar saja kecelakaan pesawat terbang dan kapal banyak terjadi. Jalan-jalan rusak karena truk-truk yang kelebihan muatan kongkalikong dengan jembatan timbang yang seharusnya bertugas memeriksa dan menguji mereka. Di dunia akademik, selain siswa/ mahasiswa banyak yang masih gemar mencontek kadang guru-guru juga membocorkan soal ujian, dengan motif pribadi atau malah kesepakatan sekolah! Fit and proper tes yang dilakukan parlemen sulit diketahui kebenarannya karena juga sarat dengan suap dan korupsi.

Namun ada lagi yang lebih parah. Banyak orang di negeri ini, entah ajaran dari mana, yang sangat takut memeriksa dan menyelidiki dirinya sendiri. Alhasil banyak orang baru tahu penyakitnya setelah parah, dan selanjutnya datang ke rumah sakit terlambat. Alih-alih ingin mengetahui keadaan diri sebenarnya, banyak orang malah memelihara bayangan dan harapan palsu tentang dirinya. Itulah sebabnya para dukun sangat laris, apalagi yang membawa-bawa Alkitab dan nama Yesus, sebab mereka tahu betul banyak orang tidak suka mengetahui kondisi dirinya sesungguhnya, dan karena itu ingin mendengar “kabar baik walau bohong”.

Firman hari ini mengajak kita agar senantiasa memeriksa dan menguji diri kita sendiri: kesehatan fisik dan psikis, kemampuan mental dan intelektual, serta kondisi rumah dan berbagai peralatan rumah tangga yang kita gunakan sehari-hari. Lebih dari itu firman hari ini menantang kita juga memeriksa iman dan spiritualitas kita. Bagaimana keadaan sebenarnya iman kita kepada Tuhan? Jika diselidiki dan diuji secara mendalam: apakah kita taat kepada Tuhan, mengasihi sesama, dan penuh dengan pengharapan?

Seorang teolog mengatakan ada 4(empat) situasi hidup yang bisa kita pergunakan sebagai alat untuk membantu kita menguji iman dan spiritualitas kita. Pertama: saat kita sedang marah. Kedua: saat kita sedang sendirian dan kesepian, tak seorang pun ada di dekat dan melihat kita. Ketiga: saat kita sedang memiliki suatu obsesi atau keinginan yang sangat kuat. Keempat: saat kita berkelimpahan uang. Pertanyaan menguji iman: apakah ketika berada dalam kondisi-kondisi itu kita masih dapat disebut sebagai Kristen atau pengikut Yesus yang baik? Bagaimanakah iman, kasih dan pengharapan kita di saat kita sedang marah, kesepian, terobsesi, atau berkelimpahan materi? Jawablah jujur. Sebelumnya mintalah kepada Tuhan agar kamu diberikan hati yang ingin mengetahui kebenaran, atau keadaan imanmu sebenar-benarnya.

Doa:
Ya Allah, berilah kepada kami hati yang jujur dan ikhlas, agar kami selalu ingin dan berani mengetahui kondisi diri kami sebenarnya. Tolonglah dan mampukanlah kami memeriksa, menyelidiki dan mengevaluasi diri dan hidup kami. Karuniakanlah kami Roh Kudus agar kami juga menguji iman kami supaya kami tahu keadaan iman kami sesungguhnya, dan kami mau memperbaiki dan meningkatkannya. Ya Allah, berkatilah kami. Buatlah kami berbahagia dan selalu gembira bersama Yesus, Tuhan dan Juruslamat kami. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

selengkapya...