Laman

Jumat, 13 November 2009

PERANGKAP

Teman, saya pernah membaca suatu hal yang menarik tentang perangkap. Suatu sistem yang unik, telah dipakai di hutan-hutan Afrika untuk menangkap monyet yang ada disana. Sistem itu memungkinkan untuk menangkap monyet dalam keadaan hidup, tak cedera, agar bisa dijadikan hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.

Sang pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari dan mengikat (menanam) toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan.

Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak melepaskan tangannya sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan kacang yang sedang digenggamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.

Teman, kita mungkin tertawa dengan tingkah monyet itu. Kita bisa jadi terbahak saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples. Tapi, mungkin, sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Betapa sering, kita mengengam setiap permasalahan yang kita miliki, layaknya monyet yang mengenggam kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberikan maaf, tak mudah melepaskan maaf, memendam setiap amarah dalam dada, seakan tak mau melepaskan selamanya.

Seringkali, kita, yang bodoh ini, membawa "toples-toples" itu kemana pun kita pergi. Dengan beban yang berat, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap dengan persoalan pribadi yang kita alami.

Teman, bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lalu, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah lebih menyenangkan, untuk memberikan maaf bagi setiap orang yang pernah berbuat salah kepada kita? Karena, kita pun bisa jadi juga bisa berbuat kesalahan yang sama. Bukankah lebih terasa nyaman, saat kita membagikan setiap masalah kepada orang lain, kepada teman, agar di cari penyelesaiannya, daripada terus dipendam?

selengkapya...

PENGORBANAN

Pada suatu ketika terdapatlah suatu jembatan putar yang berukuran besar, yang melintasi satu sungai yang lebar. Pada hampir setiap hari, jembatan ini terpasang dengan badan jembatan sejajar dengan tepi sungai sehingga kapal-kapal dari kedua sisi jembatan dapat berlayar melewati sungai dengan bebas.

Tetapi, pada waktu-waktu tertentu, satu kereta api selalu datang melalui tempat ini dan jembatan itu dipasang melewati sungai sehingga kereta api ini dapat menyeberangi sungai.

Sang penjaga jembatan berada di sebuah pos kecil di satu sisi dari sungai, di mana ia dapat mengoperasikan pengontrolan jembatan sehingga jembatan itu dapat diputar dan dipasang pada tempatnya ketika kereta api itu datang.

Pada satu senja, ketika sang penjaga jembatan sedang menunggu kereta api terakhir untuk datang, ia menatap ke kejauhan, melalui cahaya senja yang mulai meredup, dan melihat lampu kereta api. Ia masuk ke tempat pengontrolan jembatan dan menunggu sampai kereta tersebut ada pada jarak yang sudah ditentukan sebelum ia memutar jembatan itu.

Ia memutar jembatan itu sehingga dapat terpasang pada tempatnya, tetapi dengan perasaan terkejut, ia menyadari bahwa kontrol penguncian jembatan tidak bekerja dengan lancar. Jika jembatan tidak terkunci dengan aman pada posisinya, jembatan itu dapat bergoyang ke depan dan belakang pada ujungnya ketika kereta api datang melaluinya, sehingga kereta api tersebut dapat lepas dari jalur jembatan dan jatuh tenggelam ke dalam sungai. Kereta yang akan datang adalah kereta api penumpang yang sarat dengan penumpang.

Ia meninggalkan posnya dengan jembatan terpasang melewati sungai, dan tergesa-gesa berjalan ke tepi sungai di seberang, di mana terdapat sebuah tuas yang ia dapat gunakan untuk mengunci secara manual. Ia dapat mendengar deru kereta sekarang, dan dengan menjulurkan badannya ke depan dan menumpukan berat badannya, ia mengunci jembatan tesebut. Banyak jiwa bertumpu pada kekuatan orang ini.

Lalu, suatu suara datang dari arah sisi jembatan yang lain -suara yang membuat darahnya mendesir.- "Papa, di mana Papa berada?" Anaknya yang berumur empat tahun sedang berlari menyebrangi jembatan untuk mencarinya. Instingnya yang pertama adalah untuk berteriak kepada anaknya, "Lari! Lari!" Tetapi kereta ini terlalu dekat. Kakinya yang mungil tidak akan dapat berlari menyeberangi jembatan dengan cukup waktu.

Orang ini hampir saja meninggalkan tuas itu untuk berlari dan menjangkau anaknya dan membawanya ke tempat yang aman, tapi ia menyadari bahwa ia tidak akan dapat menjangkau tuas ini pada waktunya. Ia harus memilih -apakah orang-orang yang berada di kereta, atau anaknya, yang harus mati. Ia hanya membutuhkan satu saat saja untuk mengambil keputusannya.

Kereta berlalu dengan kencang dan aman pada tempatnya, dan tiada seorangpun di kereta yang bahkan menyadari bahwa sesosok tubuh yang mungil dan hancur, terlontar secara tidak berdaya ke dalam sungai, tersorong oleh kereta yang melaju. Mereka juga tidak menyadari sesosok figur manusia yang menyedihkan dan menangis, yang tetap memeluk erat tuas pengunci lama setelah kereta tersebut berlalu.

Mereka tidak melihat bagaimana ia berjalan pulang dengan gontai dan lebih lama dari biasanya untuk memberitahukan istrinya bagaimana ia telah mengorbankan anaknya.

Sekarang, apabila saudara dapat mengerti perasaannya, yang melanda hati orang ini, saudara dapat mulai mengerti bagaimana perasaan Bapa Surgawi kita, ketika Ia mengorbankan AnakNya untuk menjembatani jurang di antara kita, dan kehidupan yang kekal. Apakah saudara akan terkejut bahwa Bapalah yang membuat bumi berguncang dan langit menjadi gelap ketika AnakNya wafat? Dan bagaimana perasaanNya ketika kita semua tergesa-gesa melewati kehidupan tanpa meluangkan waktu sedikit pun untuk memikirkan apa yang telah Ia lakukan bagi kita melalui Yesus Kristus?

Kapankah saat terakhir Saudara bersyukur kepada Tuhan akan pengorbanan AnakNya?

selengkapya...

PENDERITAAN

Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang. Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul.

Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air kemudian menaruh ketiganya di atas api. Segera air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama dimasukkannya beberapa wortel. Ke dalam panci kedua dimasukkannya beberapa butir telur. Dan, pada panci terakhir dimasukkannya biji-biji kopi. Lalu dibiarkannya ketiga panci itu beberapa saat tanpa berkata sepatah kata.

Sang anak perempuan mengatupkan mulutnya dan menunggu dengan tidak sabar. Ia keheranan melihat apa yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit, ayahnya mematikan kompor. Diambilnya wortel-wortel dan diletakkannya dalam mangkok. Diambilnya pula telur-telur dan ditaruhnya di dalam mangkok. Kemudian dituangkannya juga kopi ke dalam cangkir.

Segera sesudah itu ia berbalik kepada putrinya, dan bertanya: "Sayangku, apa yang kaulihat?"

"Wortel, telur, dan kopi," jawab anaknya.

Sang ayah membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba wortel. Ia melakukannya dan mendapati wortel-wortel itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya si anak mendapatkan telur matang yang keras. Yang terakhir sang ayah meminta anaknya menghirup kopi. Ia tersenyum saat mencium aroma kopi yang harum. Dengan rendah hati ia bertanya "Apa artinya, bapa?"

Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda telah merasakan penderitaan yang sama, yakni air yang mendidih, tetapi reaksi masing-masing berbeda. Wortel yang kuat, keras, dan tegar, ternyata setelah dimasak dalam air mendidih menjadi lembut dan lemah. Telur yang rapuh, hanya memiliki kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah dimasak dalam air mendidih, cairan yang di dalam itu menjadi keras. Sedangkan biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak dalam air mendidih, kopi itu mengubah air tawar menjadi enak.

"Yang mana engkau, anakku?" sang ayah bertanya. "Ketika penderitaan mengetuk pintu hidupmu, bagaimana reaksimu? Apakah engkau wortel, telur, atau kopi?"

Bagaimana dengan ANDA, sobat?

Apakah Anda seperti sebuah wortel, yang kelihatan keras, tetapi saat berhadapan dengan kepedihan dan penderitaan menjadi lembek, lemah, dan kehilangan kekuatan?

Apakah Anda seperti telur, yang mulanya berhati penurut? Apakah engkau tadinya berjiwa lembut, tetapi setelah terjadi kematian, perpecahan, perceraian, atau pemecatan, Anda menjadi keras dan kepala batu? Kulit luar Anda memang tetap sama, tetapi apakah Anda menjadi pahit, tegar hati, serta kepala batu?

Atau apakah Anda seperti biji kopi? Kopi mengubah air panas, hal yang membawa kepedihan itu, bahkan pada saat puncaknya ketika mencapai 100ยบ C. Ketika air menjadi panas, rasanya justru menjadi lebih enak.

Apabila Anda seperti biji kopi, maka ketika segala hal seolah-olah dalam keadaan yang terburuk sekalipun Anda dapat menjadi lebih baik dan juga membuat suasana di sekitar Anda menjadi lebih baik.

Bagaimana cara Anda menghadapi penderitaan? Apakah seperti wortel, telur, atau biji kopi?

selengkapya...

PENCURI KUE

Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara lalu menemukan tempat duduk di sebelah lelaki. Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya.

Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki di sebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan.

Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang pemberani itu mulai menghabiskan kue-kuenya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir Kalau aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia! Setiap ia mengambil satu kue, si Lelaki juga mengambil satu.

Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya, sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir, Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar, malah ia tidak kelihatan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal.

Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih!" Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget.

Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya. Koq milikku ada di sini erangnya dengan patah hati, Jadi kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi. Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah pencuri kue itu.

selengkapya...

PELAJARAN DARI SEORANG GELANDANGAN

Hari itu, hari Minggu yang dingin di musim gugur. Pelataran parkir menuju gereja sudah hampir penuh. Ketika aku keluar dari mobilku, aku melihat bahwa teman-temanku sesama anggota gereja saling berbisik-bisik sementara mereka berjalan menuju gereja.

Ketika aku hampir sampai, aku melihat seorang pria terbaring di dinding di luar gereja. Dia tergeletak sedemikian rupa seakan-akan dia sedang tidur. Dia mengenakan sebuah mantel panjang yang robek-robek dan sebuah topi di kepalanya, jatuh ke bawah menutupi wajahnya. Dia memakai sepatu yang kelihatannya sudah berumur 30 tahun, terlalu kecil untuk kakinya, dengan lubang di sana sini, jarinya menyembul keluar.

Kelihatannya pria ini seorang gelandangan yang tidak memiliki rumah (tuna wisma), dan sedang tertidur, sehingga aku terus berjalan ke pintu gereja.

Kami berkumpul selama beberapa menit, dan seseorang menyampaikan tentang pria yang terbaring di luar. Orang-orang mentertawakan dan berbisik-bisik membicarakan masalah ini tetapi tidak ada yang mau mengajak pria itu untuk masuk ke dalam, termasuk aku.

Beberapa lama kemudian kebaktian dimulai. Kami semua menunggu Pendeta yang akan maju ke depan dan menyampaikan Firman Tuhan, ketika pintu gereja terbuka.

Muncullah pria tunawisma itu berjalan di lorong gereja dengan kepala tertunduk.

Semua orang menarik nafas dan berbisik-bisik dan terkejut.

Pria itu terus berjalan dan akhirnya sampai di panggung, dia membuka topi dan mantelnya. Hatiku terguncang.

Di sana berdiri pendeta kami ... dialah "gelandangan" itu.

Tidak ada seorangpun yang berbicara.

Pendeta mengambil Alkitabnya dan meletakkannya di mimbar.

"Jemaat, saya kira tidak perlu bagi saya untuk mengatakan apa yang akan saya khotbahkan hari ini. Jika kamu terus menghakimi dan menilai orang, kamu tidak akan punya waktu untuk mengasihi mereka."

selengkapya...

PEJALAN KAKI

Ada cerita mengenai seorang pejalan kaki yang mengadakan perjalanan pada malam bersalju melalui salju yang tebal dan udara dingin dibawah nol. Dia sudah begitu lelah. Dia tahu kakinya sudah beku dan dia rasa dia tidak dapat pergi lebih jauh. Dia tergoda untuk menyerah dan berbaring di atas salju. Tapi dia sadar itu berarti kematian.

Sementara ia berjuang pada jalan bersalju, dia terantuk pada satu gundukan. Itu adalah tubuh seseorang. Dia balikkan orang itu dan dia lihat bahwa orang ini masih hidup. Dia mulai berkata kepadanya dan digosoknya tangan dan kaki orang itu. Dia angkat orang itu dengan menggunakan tenaganya yang sisa, dia taruh orang itu di punggungnya dan berjuang kembali menempuh jalan yang bersalju sambil mendukung orang yang ditemukannya di jalan itu.

Tidak lama kemudian, ia mulai berkeringat dan dia merasakan aliran darahnya mengalir kembali pada anggota tubuhnya. Di kejauhan ia lihat cahaya. Dia maju terus dan jatuh tepat di depan pintu rumah. Petani serta istrinya yang tinggal di rumah itu mengambil dua tubuh laki-laki setengah kaku. Mereka memberikan kehangatan, makanan dan tempat tidur.

Orang yang ditolong mengucapkan terima kasih kepada penolongnya karena telah menyelamatkan jiwanya. Pejalan kaki tadi berkata,"Saya senang bertemu anda, oleh karena dalam menolong hidup Anda, saya menyelamatkan nyawa saya sendiri, karena saya sudah untuk menyerah juga tadinya."

Setiap usaha yang dibuat untuk Kristus akan bereaksi jadi berkat pada kita sendiri. Setiap tugas yang dilakukan, setiap pengorbanan yang dibuat dalam nama Yesus membawa upah yang besar.

Pada setiap kegiatan dari tugas kita, Allah berkata, 'Dia memberikan berkatNya'. Kita harus hidup di dunia ini untuk memenangkan jiwa bagi Juru Selamat.

Jika kita melukai orang lain berati kita melukai diri kita sendiri.

Jika kita memberkati orang lain kita juga memberkati diri kita; karena perbuatan yang baik dipancarkan kembali pada hati kita.

Setiap kata simpati yang diucapkan pada orang yang berduka, setiap perbuatan untuk melepaskan yang tertekan dan setiap pemberian yang akan memenuhi kebutuhan saudara kita, diberi atau dibuat dengan satu kemuliaan Allah yang akan menyebabkan berkat bagi yang memberi.

Kesukaan berbuat baik pada orang lain memberi cahaya pada perasaan-perasaan yang memancar melalui syaraf, mempercepat sirkulasi darah dan menyokong mental dan kesehatan tubuh.

selengkapya...

PASANGAN HIDUP SEJATI

Suatu waktu, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang isteri. Dia mencintai isteri yang keempat dan memberinya harta dan kekayaan yang banyak. Sebab dialah yang tercantik di antara semua isterinya.

Pria ini sangat bangga dengan isteri ketiganya, dan selalu berusaha memperkenalkannya kepada semua temannya. Ia juga selalu kuatir kalau isterinya ini akan lari dengan pria yang lain.

Iapun sangat menyukai isteri keduanya yang sabar dan pengertian. Bila pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan isterinya ini. Dialah tempatnya bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.

Isteri yang pertama adalah pasangan yang setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dialah yang merawat dan mengatur kekayaan dan usaha sang suami. Akan tetapi sang pedagang tidak begitu mencintainya. Walaupan sang isteri pertama ini begitu sayang kepadanya, namun ia tidak begitu memperdulikannya.

Suatu ketika sang pedagang sakit dan menyadari bahwa dia akan segera meningagl. Lalu ia meminta semua isterinya datang. Ia bertanya kepada isteri keempatnya, "Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Maukah engkau menemaniku?"

Isterinya terdiam, lalu menjawab, "tentu saja tidak," lalu ia pergi tanpa berkata-kata lagi.

Jawaban itu sangat menyakitkan hatinya. Pedagang ini lalu bertanya kepada isteri ketiganya, "Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku?"

Isterinya menjawab, "Hidup begitu indah di sini, Aku akan menikah lagi jika kau mati."

Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Lalu, ia bertanya kepada isteri keduanya, "Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau aku mati, maukah engkau ikut mendampingiku?"

Sang isteri menjawab pelan, "Maafkan aku," ujarnya, "aku tidak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu sampai liang kubur saja. Nanti kubuatkan makam yang indah buatmu."

Jawaban itu seperti kilat yang menyambar.

Sang pedagang merasa putus asa. Tiba-tiba terdengar sebuah suara, "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut ke manapun engkau pergi. Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu."

Sang pedagang menoleh ke samping, dan mendapati isteri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus seperti orang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, "Kalau saja aku bisa merawatmu lebih baik saat aku mampu, tak akan kau seperti ini isteriku."

Sesungguhnya kita punya 4 isteri dalam hidup ini. Isteri yang keempat adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa pada saat kita menghadapNya.

Isteri yang ketiga adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan pergi dan melupakan kita yang pernah memilikinya. Sedangkan isteri kedua adalah kerabat dan teman-teman. Bagaimanapun dekatnya hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka menemani kita.

Sesungguhnya isteri pertama adalah jiwa dan kebenaran kita. Mungkin kita sering mengabaikan dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun sebenarnya hanya jiwa dan kebenaran yang kita lakukanlah yang mampu untuk terus dan setia dan mendampingi ke manapun kita melangkah. Jika jiwa terpaut kepada Yesus dan kita melakukan perbuatan-perbuatan baik dalam kebenaran, maka itu akan mengantar kita ke dalam kehidupan kekal.

selengkapya...