Suatu ketika di sebuah padang, terdapat sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun oleh dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu tampak gagah dibandingkan dengan pohon-pohon lain di sekitarnya.
Pohon itu pun menjadi tempat hidup bagi beberapa burung di sana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka di dalam pohon yang besar itu. Pohon itu pun merasa senang karena ia mendapatkan teman saat mengisi hari-harinya yang panjang.
Orang-orang bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk dan membuka bekal makan di bawah naungan dahan-dahannya yang rindang. "Pohon yang sangat berguna," begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon bangga mendengar perkataan tadi.
Waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu dimilikinya. Burung-burung pun mulai enggan bersarang di sana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh.
Sang pohon pun bersedih. "Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?" begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan. "Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan siksaan ini?" Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering.
Musim telah berganti, namun keadaannya belum berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga pada saat pagi menjelang.
"Cittt ... cericirit ... cittt" Ah suara apa itu? Ternyata, ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya. "Cittt ... cericirit ... cittt, suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran burung-burung baru. Satu ... dua ... tiga ... dan empat anak burung lahir ke dunia. "Ah, doaku di jawab-Nya," begitu seru sang pohon.
Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka, akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung jenis tertentu tertarik untuk bersarang di sana. Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering daripada sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. "Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini", gumam sang pohon dengan berbinar.
Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang tunas tersenyum. Ah, rupanya, air mata sang pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.
***
Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik? Allah memang selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita. Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah di tebak, namun, yakinlah, Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.
Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati. Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia. Allah, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.
Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.
selengkapya...
Laman
Selasa, 03 November 2009
POHON TUA
PENGORBANAN
Pada suatu ketika terdapatlah suatu jembatan putar yang berukuran besar, yang melintasi satu sungai yang lebar. Pada hampir setiap hari, jembatan ini terpasang dengan badan jembatan sejajar dengan tepi sungai sehingga kapal-kapal dari kedua sisi jembatan dapat berlayar melewati sungai dengan bebas.
Tetapi, pada waktu-waktu tertentu, satu kereta api selalu datang melalui tempat ini dan jembatan itu dipasang melewati sungai sehingga kereta api ini dapat menyeberangi sungai.
Sang penjaga jembatan berada di sebuah pos kecil di satu sisi dari sungai, di mana ia dapat mengoperasikan pengontrolan jembatan sehingga jembatan itu dapat diputar dan dipasang pada tempatnya ketika kereta api itu datang.
Pada satu senja, ketika sang penjaga jembatan sedang menunggu kereta api terakhir untuk datang, ia menatap ke kejauhan, melalui cahaya senja yang mulai meredup, dan melihat lampu kereta api. Ia masuk ke tempat pengontrolan jembatan dan menunggu sampai kereta tersebut ada pada jarak yang sudah ditentukan sebelum ia memutar jembatan itu.
Ia memutar jembatan itu sehingga dapat terpasang pada tempatnya, tetapi dengan perasaan terkejut, ia menyadari bahwa kontrol penguncian jembatan tidak bekerja dengan lancar. Jika jembatan tidak terkunci dengan aman pada posisinya, jembatan itu dapat bergoyang ke depan dan belakang pada ujungnya ketika kereta api datang melaluinya, sehingga kereta api tersebut dapat lepas dari jalur jembatan dan jatuh tenggelam ke dalam sungai. Kereta yang akan datang adalah kereta api penumpang yang sarat dengan penumpang.
Ia meninggalkan posnya dengan jembatan terpasang melewati sungai, dan tergesa-gesa berjalan ke tepi sungai di seberang, di mana terdapat sebuah tuas yang ia dapat gunakan untuk mengunci secara manual. Ia dapat mendengar deru kereta sekarang, dan dengan menjulurkan badannya ke depan dan menumpukan berat badannya, ia mengunci jembatan tesebut. Banyak jiwa bertumpu pada kekuatan orang ini.
Lalu, suatu suara datang dari arah sisi jembatan yang lain -suara yang membuat darahnya mendesir.- "Papa, di mana Papa berada?" Anaknya yang berumur empat tahun sedang berlari menyebrangi jembatan untuk mencarinya. Instingnya yang pertama adalah untuk berteriak kepada anaknya, "Lari! Lari!" Tetapi kereta ini terlalu dekat. Kakinya yang mungil tidak akan dapat berlari menyeberangi jembatan dengan cukup waktu.
Orang ini hampir saja meninggalkan tuas itu untuk berlari dan menjangkau anaknya dan membawanya ke tempat yang aman, tapi ia menyadari bahwa ia tidak akan dapat menjangkau tuas ini pada waktunya. Ia harus memilih -apakah orang-orang yang berada di kereta, atau anaknya, yang harus mati. Ia hanya membutuhkan satu saat saja untuk mengambil keputusannya.
Kereta berlalu dengan kencang dan aman pada tempatnya, dan tiada seorangpun di kereta yang bahkan menyadari bahwa sesosok tubuh yang mungil dan hancur, terlontar secara tidak berdaya ke dalam sungai, tersorong oleh kereta yang melaju. Mereka juga tidak menyadari sesosok figur manusia yang menyedihkan dan menangis, yang tetap memeluk erat tuas pengunci lama setelah kereta tersebut berlalu.
Mereka tidak melihat bagaimana ia berjalan pulang dengan gontai dan lebih lama dari biasanya untuk memberitahukan istrinya bagaimana ia telah mengorbankan anaknya.
Sekarang, apabila saudara dapat mengerti perasaannya, yang melanda hati orang ini, saudara dapat mulai mengerti bagaimana perasaan Bapa Surgawi kita, ketika Ia mengorbankan AnakNya untuk menjembatani jurang di antara kita, dan kehidupan yang kekal. Apakah saudara akan terkejut bahwa Bapalah yang membuat bumi berguncang dan langit menjadi gelap ketika AnakNya wafat? Dan bagaimana perasaanNya ketika kita semua tergesa-gesa melewati kehidupan tanpa meluangkan waktu sedikit pun untuk memikirkan apa yang telah Ia lakukan bagi kita melalui Yesus Kristus?
Kapankah saat terakhir Saudara bersyukur kepada Tuhan akan pengorbanan AnakNya?
selengkapya...
Setiap Masalah Bisa Dipecahkan
Pada suatu hari, dalam seminar doktoral tingkat atas mengenai matematika, seorang profesor menuliskan soal yang tidak bisa dipecahkan di papan tulis. Para ahli matematika sudah berusaha selama bertahun-tahun menemukan jawaban soal ini.
Profesor berusaha menekankan kepada para mahasiswa bahwa tidak ada jawaban yang mudah. Dia mengatakan kepada mereka, "Soal ini tidak bisa dipecahkan, tetapi saya ingin kalian melewatkan waktu satu jam penuh untuk berusaha memecahkannya."
Seorang mahasiswa datang kira-kira lima menit setelah profesor memberikan tugas itu. Dia duduk, melihat soal di papan tulis dan mulai mengerjakannya, dan dia memecahkannya, hanya karena dia tidak pernah mendengar ada orang mengatakan soal itu tidak bisa dipecahkan.
Saya bertanya-tanya dalam hati sebanyak apa masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh Anda dan saya hanya karena kita mendengar tidak ada pemecahannya.
Kunci pertama untuk menangani masalah adalah mendapatkan pendirian yang benar: bahwa setiap masalah bisa dipecahkan.
"Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil" (Lukas 1:37).
selengkapya...
Sabtu, 17 Oktober 2009
Berapa Lama Lagi, Tuhan?
Ayat bacaan: Mazmur 13:2
=====================
"Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?"
berapa lama lagi Tuhan, dimana Tuhan"Dimanakah Tuhan disaat aku menderita? Berapa lama lagi aku harus merasakan penderitaan ini?" Kata seorang teman pada suatu kali ketika ia menghadapi penderitaan. Ia merasa seolah-olah Tuhan tidak mempedulikan dirinya dan membiarkannya sendirian menghadapi semua beban. Seperti dirinya, ada saat-saat dimana kita berhadapan dengan pertanyaan yang sama. Seringkali ketika kita berada dalam titik rendah kehidupan, kita mulai bertanya-tanya mengapa Tuhan tidak mengulurkan tanganNya atau setidaknya menjawab doa kita. Mengapa Tuhan seolah-olah sengaja memalingkan mukaNya, membiarkan kita bergumul sendirian? Pada saat-saat demikian seringkali kita tidak lagi mampu mengeluarkan ucapan syukur.
Ada memang masa dimana kita mengalami kesulitan, dan itulah hidup. Tidak ada hidup yang selamanya senang. Pasti ada waktu kita harus merasakan kesedihan bahkan penderitaan dengan berbagai bentuk dan sebab. Sebagai manusia yang memiliki perasaan, tentu rasa itu menyakitkan kita, dan tidak ada satupun dari kita yang ingin berlama-lama berada dalam perasaan sakit itu. Kita ingin sesegera mungkin lepas. Namun mengapa Tuhan tidak kunjung menolong kita? Ini pertanyaan yang pasti pernah dialami oleh siapapun. Hal yang sama juga sempat dialami oleh beberapa tokoh Alkitab dalam berbagai kesempatan, seperti apa yang dialami Daud misalnya. Pada suatu ketika Daud mengalami pergumulan berat. Semua musuhnya bersorak-sorak mengejeknya, dan ia pun sempat merasa mengalami itu sendirian saja tanpa ada yang peduli, termasuk Tuhan. Ia berada dalam titik rendah, dalam tekanan atas segala yang ia alami, sampai-sampai ia pun bertanya pada Tuhan: "Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?" (Mazmur 13:2). Daud terus melanjutkan keluhannya, "Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?" (ay 3). Dalam kesesakan hidup, sama seperti Daud kita pun sering mempertanyakan hal yang sama. Itu adalah hal yang wajar. Tapi janganlah membiarkan hal itu berlarut-larut, membiarkan kita hanya terfokus kepada keluhan atas ketidaksabaran kita mengalami tekanan, lalu serta merta menyalahkan Tuhan karenanya. Daud tidak mau terjatuh pada perasaan seperti itu. Ia memang sempat mengeluh, dan itu sekali lagi wajar, tapi ia tidak mau berlama-lama membiarkan perasaan itu menguasainya. Daud tidak ingin tenggelam dan menyerah pada situasi tidak menyenangkan yang ia alami. Segera ia bangkit dan mengandalkan imannya, percaya bahwa Tuhan pasti mampu mengatasi segala perkara, termasuk perkara dirinya dan akan segera melepaskannya dari kesesakan. Lihat bagaimana Daud kembali tegar dan mengubah pola pandangnya. "Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku." (ay 6). Luar biasa bukan? Masih dalam kesesakan, Daud bisa kembali bangkit bahkan memuji Tuhan dan mengatakan bahwa Tuhan telah berbuat baik kepadanya.
Apa yang membuat Daud bisa berkata demikian? Saya yakin Daud belajar dari pengalaman hidupnya. Disaat ia masih sangat muda, ia sudah mampu mengalahkan raksasa Goliat atas izin Tuhan. Kemudian mari kita lihat siapa Daud. Daud tadinya bukan siapa-siapa, ia bahkan tidak dipandang ayahnya sendiri ketika Samuel hendak mengambil salah satu dari anaknya untuk menjadi raja. (baca 1 Samuel 16:1-13). Daud hanyalah anak-anak yang kerjanya hanya menggembalakan kambing domba. Tapi lihatlah ternyata ia dipilih Tuhan untuk menjadi raja Israel. Dari padang rumput ke tampuk istana, dari bukan siapa-siapa menjadi raja yang mulia. Dalam berbagai kesempatan Daud secara langsung mengalami penyertaan Tuhan atas hidupnya. Begitu banyak bukti di masa lalunya. Jika dulu semua itu mampu dilakukan Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan sekarang tidak bisa menolongnya? Daud menyadari hal itu, sehingga ia pun bisa bangkit dan kembali mempercayakan hidup sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan dalam iman yang kuat.
Mungkin bisa dimaklumi jika pada suatu saat kita merasa sendirian menghadapi masalah, merasa bahwa Tuhan sepertinya meninggalkan kita bergumul seorang diri. Tapi jangan biarkan perasaan itu menguasai kita berlama-lama. Segeralah bangkit seperti Daud! Berbaliklah segera dan kembalilah menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Percayalah jika dahulu Tuhan sanggup, saat ini pun Dia sanggup, sebab Tuhan tidak tidak pernah berubah. Dalam Ibrani dikatakan "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8). Apa yang dijanjikan Tuhan sesungguhnya jelas: "..Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Yosua 1:5) dan kemudian ayat ini kembali diulang dalam Ibrani: "Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b). Karenanya, "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12). Dan "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Ada masa dimana kita harus mengalami permasalahan yang mungkin menimbulkan penderitaan, tapi ingatlah bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian. Pada waktunya, sesuai waktuNya, Dia akan mengangkat kita keluar dari pergumulan. Jika diantara teman-teman ada yang masih berada dalam pergumulan, bersabarlah dan jangan putus harapan. Nantikan pertolongan Tuhan dengan sabar, tetaplah tekun dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Pada waktunya Tuhan pasti akan menyatakan mukjizatNya yang ajaib.
Bersabarlah dan tetaplah percaya dalam iman yang teguh, segala sesuatu pasti indah pada waktunya
selengkapya...
Metamorfosa
Ayat bacaan: Roma 12:2
====================
"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."
metamorfosa, kupu-kupu, ciptaan baruTuhan memang luar biasa kreatifnya. Salah satu perubahan yang paling mengagumkan bagi saya adalah proses perubahan dari seekor ulat menjadi kupu-kupu. Proses yang dikenal dengan metamorfosa ini adalah sebuah proses alam yang sungguh menakjubkan. Awalnya dimulai dari telur yang menetas dan melahirkan larva (ulat) yang bagi banyak orang terutama wanita dianggap geli bahkan menjijikkan. Geliat ulat ini akan dengan mudah membuat banyak orang bergidik geli melihatnya. Lalu ulat akan berubah wujud menjadi kepompong, dan kemudian dari kepompong itu akan keluar kupu-kupu yang indah, gemulai menari menunggang angin, anggun, puitis baik dari segi keindahan fisiknya hingga gerakannya. Selain masalah bentuk, ada pula perbedaan-perbedaan kasat mata lainnya. Ulat merangkak, kupu-kupu terbang. Ulat lambat, kupu-kupu aktif dan atraktif geraknya. Benar-benar sebuah perubahan total.
Metamorfosa yang terjadi pada kupu-kupu bisa kita pakai sebagai analogi/model sederhana dari sebuah perubahan kita dari manusia lama menjadi manusia baru. Sesungguhnya perubahan yang terjadi kita pun tidak kalah menakjubkan. Ketika kita menerima Yesus, kita mengalami proses perdamaian dengan Tuhan. Kita yang tadinya berlumur dosa dan tidak layak untuk selamat, kini dilayakkan untuk memperoleh keselamatan yang besar itu semata-mata lewat kemurahan dan kasih karunia Allah, lewat karya penebusan agung Kristus di atas kayu salib. Dengan demikian, ketika kita bersatu dengan Kristus, kita pun mengalami metamorfosa, menjadi manusia baru sama sekali, the whole new creation. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Dan ini semua, sekali lagi, berasal dari Allah melalui Kristus. "Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya.."(ay 18). Kita yang tadinya seperti ulat atau larva yang menjijikkan, kini mendapat kesempatan untuk diubahkan menjadi seindah kupu-kupu. Menerima Kristus dan menerima baptisan memungkinkan kita untuk itu. "Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya." (Roma 6:4-5). Ketika kita dibaptis sebagai tanda ketaatan dan kepercayaan kita pada Yesus, segala kebiasaan-kebiasaan buruk kita, segala perbuatan dosa kita di masa lalu, semua itu sesungguhnya sudah dimatikan. "Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa." (ay 6). Kita dipulihkan, dan diubahkan. Karenanya seharusnya kita tidak lagi menghambakan diri kepada dosa, karena tabiat kita yang penuh dosa itu sudah hilang kuasanya. "Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa." (ay 7).
Kepada jemaat Roma, Paulus berpesan "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Paulus ingin jemaat Roma bisa benar-benar berubah, menyikapi sebuah metamorfosa yang dianugerahkan Allah dengan sungguh-sungguh, seperti apa yang dialami ulat hingga menjadi kupu-kupu. Gaya hidup, pola hidup, cara pandang dan pola pikir jemaat haruslah berubah. Jika dulunya tidak tahu apa yang berkenan kepada Allah, kini tahu mengenai itu, dan tahu apa yang sempurna di mata Tuhan. Perubahan tidak saja berhenti pada perubahan fisik semata, tapi juga mampu mengubah apa yang ada di dalam diri kita. Hidup kita haruslah bergerak, berproses dari ulat menuju kepompong hingga bisa sukses menjadi kupu-kupu. Paulus menambahkan adalah penting bagi kita untuk bisa sampai kepada tingkat dimana kita pantas mempersembahkan diri kita sendiri sebagai persembahan hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."(Roma 12:1). Sebagai manusia baru yang telah mengalami transformasi, atau dalam analogi di atas saya gambarkan sebagai metamorfosa, kita seharusnya mampu menghargai anugerah menakjubkan yang telah diberikan Tuhan itu kepada kita dengan menjalani hidup sebagai ciptaan baru. Semua telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Sekarang tinggal keputusan kita sendiri, apakah kita mau berproses hingga menjadi kupu-kupu atau berhenti hanya sebagai larva hingga kepompong saja. Bangsa Israel pernah menunjukkan kebebalannya dalam segala bentuk. Dalam Kisah Para Rasul pun sempat disinggung mengenai hal ini. "Tetapi nenek moyang kita tidak mau taat kepadanya, malahan mereka menolaknya. Dalam hati mereka ingin kembali ke tanah Mesir." (Kisah Para Rasul 7:39). Musa dipakai Tuhan untuk menyatakan firmanNya, tapi bangsa Israel yang tegar tengkuk ini tidak juga mau taat kepadanya. Bahkan menolak dan ingin kembali ke tanah Mesir. Kembali ke tanah Mesir berbicara mengenai kembali kepada dosa-dosa masa lalu. Artinya, bangsa Israel menyia-nyiakan keselamatan yang telah dianugerahkan Tuhan. Mereka lebih memilih untuk kembali menjadi ulat dan menolak metamorfosa untuk menjadi sempurna.
"Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima." (2 Korintus 6:1). Ini peringatan penting yang juga berlaku bagi kita. Janganlah kita sampai menyia-nyiakan karunia Allah yang telah kita terima dengan kembali kepada perbuatan-perbuatan dosa kita seperti di masa lalu. Sebagai ciptaan baru, mulailah sebuah hidup baru yang penuh kemenangan. Menang dari godaan, lepas dari penghambaan akan dosa. Kita telah ditransformasi menjadi ciptaan baru. Kita bukan lagi manusia lama yang berkubang dalam kegelapan, tapi kini ada terang Kristus yang menyinari kita. Ada Roh Kudus yang membimbing setiap langkah hidup kita. Jangan sia-siakan itu, jangan kembali kepada kebiasaan buruk di masa lalu, tapi mulailah menatap ke depan sebagai "the whole new creation". Pada saatnya nanti kita akan bisa seindah kupu-kupu, yang bisa membawa berkat bagi setiap orang yang melihatnya.
Alami metamorfosa dari ulat menuju kupu-kupu yang indah
selengkapya...
Menerima Masukan
Ayat bacaan: Keluaran 18:24
=======================
"Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya."
menerima masukan, nasihatManusia sejatinya adalah mahluk yang penuh dengan keterbatasan. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tahu segalanya. Kita bisa hebat di satu sisi, tapi kita bisa buta di sisi lain. Masing-masing dari kita punya keahlian sendiri-sendiri. Kita tidak akan pernah bisa maju jika hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri, tidak peduli seberapa hebatnya kita. Karena itulah manusia memang pada hakekatnya merupakan mahluk sosial yang harus selalu berinteraksi dengan sesama untuk bisa terus maju dan mencapai sukses. Bayangkan seorang pemimpin tanpa penasehat, atau pemimpin yang tidak mau menerima masukan sama sekali dari bawahan. Sulit membayangkan model pemimpin yang seperti ini bisa memajukan apa yang ia pimpin. Pada kenyataannya kita seringkali merasa gengsi untuk mendengar masukan orang lain. Mendengar saja gengsi, apalagi melakukan. Padahal mungkin ada masukan atau nasihat yang akan lebih memudahkan pekerjaan kita, membantu kita untuk bisa meningkatkan kinerja mencapai hasil yang lebih baik. Selalu ada hal yang bisa kita pelajari dari orang lain, selalu saja ada masukan yang berharga, selalu saja ada hal-hal yang luput dari pengamatan kita. Karena itulah keterbukaan menerima nasihat atau masukan menjadi hal yang penting bagi setiap orang tanpa terkecuali. Kita bisa belajar dari sikap Musa mengenai hal ini.
Musa dipilih Allah secara langsung untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan ditunjuk untuk menuntun mereka mencapai tanah terjanji yang telah dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Dalam proses itu Musa menjadi penyambung lidah Tuhan untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk Tuhan kepada bangsa yang ia pimpin, sementara jumlah bangsa yang harus ia pimpin tidaklah kecil. Agaknya Musa terlalu fokus kepada penunjukan Tuhan atas dirinya, sehingga ia langsung terjun mengurus segalanya sendirian dan lupa akan pentingnya sebuah struktur yang lebih efektif dalam melayani. "Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang." (Keluaran 18:13). Musa bertindak sendirian menjadi hakim mengatasi perselisihan yang terjadi di antara sesama orang Israel. Kapan selesainya kalau seperti ini terus? Dalam ayat tersebut kita membaca bahwa Musa seharian duduk mengadili berbagai masalah yang dialami bangsa Israel yang tidak ada habisnya. Yitro, mertua Musa melihat itu dan tahu bahwa apa yang dilakukan Musa itu tidaklah efektif. Dia pun menanyakan "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?" (ay 14). Musa pun menyatakan bahwa sebagai yang ditunjuk Tuhan, ia harus memberitahukan ketetapan dan keputusan Allah kepada masing-masing orang. Yitro kasihan melihat menantunya harus bekerja sendirian menghadapi segalanya. "Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja." (ay 18). Yitro mengatakan bahwa bekerja sendirian seperti itu dalam mengelola masalah bangsa Israel yang begitu banyak adalah tidak baik. (ay 17). Lalu Yitro pun memberi masukan kepada Musa. Dia memberikan usul agar Musa bisa memakai strategi yang lebih baik, menyusun struktur kepemimpinan yang akan bisa membantu Musa dalam menyelesaikan setiap permasalahan secara lebih cepat, efektif dan efisien. "Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya." (ay 21-22). Sungguh menarik melihat usulan Yitro agar Musa membentuk kelompok-kelompok yang bertingkat dengan pemimpin masing-masing. Ini akan jauh lebih mempermudah Musa dalam menjalankan perintah Tuhan. Musa adalah pribadi yang rendah hati dan mau menerima masukan. "Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya." (ay 24). Yitro pun bisa melihat langsung bagaimana menantunya memperbaiki sistem pelayanannya dengan melibatkan orang-orang yang cakap sebagai rekan sekerja sebelum ia pulang kembali ke negerinya. (ay 27).
Alangkah indahnya jika seseorang mau mendengarkan dan menerima masukan atau nasihat yang baik dari orang lain seperti apa yang kita lihat dari kisah Musa dan Yitro di atas. Seringkali kita terlalu cepat diliputi perasaan gengsi untuk mendengar dan menerima masukan dari orang lain. Mendapat mandat sedikit saja kita cepat merasa sombong dan menganggap orang lain tidak sebaik kita. Padahal masukan atau nasihat itu bisa membuat kita lebih baik lagi. Musa langsung mendapat penugasan dari Tuhan, bukan dari manusia. Musa bisa saja menyombongkan hal itu, tapi apakah Musa memilih untuk berlaku seperti itu? Tidak. Ia masih terbuka untuk menerima masukan dan melakukannya. Ini sebuah keteladanan yang sangat baik dari sikap Musa. Kadang kala ada hal-hal yang luput dari perhatian kita karena sibuknya kita fokus kepada sesuatu, dan untuk itulah kita seharusnya bersyukur ketika ada masukan dari orang lain yang bisa meningkatkan kinerja kita agar lebih baik lagi.
Amsal Salomo berkata "Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak." (Amsal 15:22). Sangatlah penting bagi kita untuk memiliki banyak masukan sebagai dasar untuk membuat pertimbangan-pertimbangan dalam mengambil sebuah keputusan. Karena itu "Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan." (19:20). Hilangkanlah perasaan-perasaan egois, kesombongan dan gengsi agar kita bisa terus maju. Sikap-sikap seperti ini tidak akan pernah membawa manfaat apapun. Apa yang dicontohkan Musa bisa kita terapkan pula dalam berbagai sisi kehidupan kita, mulai dari keluarga, dalam pekerjaan maupun pelayanan. Sudahkah kita menjadi orang-orang yang mau memperhatikan masukan dan nasihat orang lain dengan rendah hati? Atau kita masih sering merasa gengsi dan terusik dengan nasihat orang, sehingga langsung menolaknya mentah-mentah meski nasihat itu baik adanya? Janganlah terburu-buru menolak saran yang masuk. Nasihat yang baik bisa datang dari siapa saja. "Dengarkanlah didikan, maka kamu menjadi bijak; janganlah mengabaikannya." (8:33). Kita bisa menjadi lebih bijak ketika menerima nasihat, bahkan pengetahuan kita pun akan bertambah. (9:9). Tanpa bimbingan kita akan kacau balau, tanpa tuntunan, petunjuk dan nasihat cepat atau lambat kita akan tersesat. Jadilah pribadi yang rendah hati dan terbuka untuk menerima masukan. Dengan hati yang terbuka kita akan bisa melihat banyaknya pertolongan datang dari mana saja demi kemajuan usaha kita.
Terbukalah menerima nasihat dan masukan yang baik agar kita bisa lebih baik lagi
selengkapya...
Mati Ketika Masih Hidup
Hidupilah kehidupan Anda hingga Anda mati. Mengapa saya mengungkapkan pernyataan tersebut? Karena banyak orang yang sudah mati walaupun dalam keadaan hidup. Dalam bukunya How to Live 365 Days a Year, Dr.Schindler menyatakan bahwa tiga dari empat orang yang berbaring di rumah sakit di isi oleh orang yang mengidap EII - Emotional Induced Illness (penyakit yang disebabkan oleh emosi). Jadi bisa dibayangkan, 3 dari 4 orang di rumah sakit akan sehat ketika bisa menangani emosinya.
David J. Schwartz, penulis buku Berpikir dan Berjiwa Besar menceritakan tentang temannya seorang pengacara yang mengidap TBC. Pengacara ini tahu bahwa ia harus menjalani hidup yang terbatas dengan banyak aturan, tetapi hal ini tidak pernah menghentikannya menjalankan praktek hukum, menghidupi keluarga yang baik, dan benar-benar menikmati hidup.
Pria itu telah berusia 78 tahun dan mengekspresikan filosofinya dengan kata-kata ini: "Saya akan hidup hingga saya mati, dan saya tidak akan mencampur aduk hidup dan mati. Sementara saya masih ada di muka bumi ini, saya akan terus hidup. Mengapa harus hanya setengah hidup? Setiap menit yang dihabiskan orang untuk khawatir soal kematian sama saja orang itu sudah mati selama satu menit itu."
Anda bisa menjalani kehidupan ini dengan dua cara. Pertama hidup dalam kekuatiran, maka kematian akan semakin cepat menjemput Anda. Kedua hidup dalam ucapan syukur dan optimisme, maka seburuk apapun keadaannya, Tuhan sanggup membuatnya lebih baik dan lebih baik lagi.
Sumber: Berpikir dan Berjiwa Besar; David J. Schwartz; Binarupa Aksara
selengkapya...